Home NgopiToday Ngaji Pasaran Online, Bukan Ngaji Online

Ngaji Pasaran Online, Bukan Ngaji Online

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

NGAJI Pasaran Online. Itu judul besarnya. Sederhananya, memindahkan ngaji kitab kuning bulan Ramadan dari media blandongan (dodokan) di pesantren ke media online. Awas loh ya, jangan dipotong-potong kalimatnya. Jangan dipersempit menjadi ngaji online. Bukan pula ngaji kitab kuning online. Tetapi, ngaji kitab kuning pasaran (Ramadan) online. Kalau mau dipendekkan, cukup ngaji pasaran online. Ini agar kita memahaminya juga tidak sepotong, terpotong, apalagi sengaja memotong.

Ok. Kalau itu sudah dipahami, kita lanjutkan ke definisi ngaji pasaran. Sebagian besar santri pesantren Jawa sudah paham tentang istilah itu. Yang sudah paham, pasti pemahaman terhadap definisi dan ciri-cirinya sama, yakni ngaji kitab kuning di bulan Ramadan, dikejar target sebulan khatam, pemaknaannya menggunakan bahasa Jawa/Cirebon, disampaikan dengan penjelasan singkat, bahkan bila kitabnya tebal hanya dimaknai kata per kata saja, pesertanya tak hanya santri yang masih aktif tapi juga banyak alumni, bahkan santri dari pesantren lain. Dan, banyak ciri khas lainnya. Beberapa ciri di atas sudah cukup untuk memberikan batasan khusus dan membedakannya dengan metode pengajian lain.

Berikutnya, latar belakang kenapa Ramadan tahun ini ngaji pasaran di-online-kan? Atau, kenapa Ramadan tahun ini marak sekali ngaji pasaran online? Faktor utamanya, “dipaksa” pademi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Bisa saja didebat, dengan mengatakan, memang sudah saatnya kiai (pesantren) menggunakan perangkat digital. Saya tidak yakin kalau tidak dipaksa Corona, para kiai restu ngaji pasaran online. Awas loh ya, ingat! Ngaji pasaran online bukan ngaji online. Alasannya tentu karena para kiai pesantren masih yakin metode tatap muka atau pengajian kitab kuning langsung di pesantren dianggap lebih baik, mulai dari soal keberkahan, pemahaman, hingga persoalan teknis yang jauh dari kemungkinan gangguan sinyal, kuota, dan lain-lain.

Pandemi Corona “memaksa” santri untuk dipulangkan sebelum Ramadan. Para kiai tidak ingin tradisi ngaji pasaran dihilangkan. Selain faktor tradisi, juga karena tak mau para santri lost nderes keilmuan. Maka, seminggu sebelum Ramadan, pesantren-pesantren besar yang memiliki fasilitas, sudah mulai on ngaji pasaran. Kiai Haji Adib Rofiuddin Izzah, sesepuh Buntet Pesantren, salahsatunya. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang sudah berpengalaman, karena memang sering memanfaatkan teknologi penyiaran digital itu untuk banyak keperluan, misal live streaming haul, produksi konten-konten promo atau kajian pendek, dan banyak lainnya.

Untuk kebutuhan ini, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon sampai harus memfasilitasi pelatihan live streaming. Diumumkan secara terbuka bagi pesantren yang mau ngaji pasaran online tapi belum memahami secara detil teknisnya. Lembaga Taklif Wannasr (LTN) sebagai pelaksana instruksi PCNU bergerak cepat. Pesantren diinventarisir, perangkat latihan disiapkan, narasumber pun dipilih. Ketemu, pilihannya adalah Mas Zamzam Noor, eks karyawan RCTV. Belasan tahun di bidang ini dan menurut saya dia terbaik di dunia live streaming. Anda sering melihat kualitas gambar live conser-nya Diana Sastra, yang suarnya digandrungi Gus Dur saat menyanyikan lagu Warung Pojok? Nah, Mas Zamzam ini yang pegang siaran online-nya. Bahkan saat ini Diana Sastra sudah punya acara via channel sendiri, berkat manajemen digital Mas Zamzam. Sorry, saya kepanjangan bahas Mas Zamzam. Sekadar ingin menunjukkan keseriusan PCNU dalam hal ini.

Tak hanya itu. LTN NU yang dimotori Mas Rofahan dan Mas Ayub Anshori, segera menginventarisir akun-akun pesantren di Kabupaten Cirebon yang ngaji pasaran. Baik yang sudah mandiri maupun peserta pelatihan. Tak hanya di-share ke publik, tapi juga untuk disetel agar secara otomatis langsung terhubung dengan Fanpage PCNU Kab. Cirebon. Sehingga, bagi santri, alumni, atau siapa saja yang mencari dan memilih kitab atau kiai untuk disimak pengajiannya cukup masuk ke akun tersebut.

Definisi sudah. Latar belakang sudah. Tinggal sasaran dan tujuannya. Sebelum saya ulas nilai (manfaat) lebih dari ngaji pasaran online. Untuk sasaran, saya bagi saja dalam tiga kluster. Kluster pertama adalah santri yang masih aktif. Kluster kedua alumni dan santri pesantren lain. Kluster ketiga masyarakat umum. Untuk kluster pertama dan kedua menjadi target utama. Sejauh ini merekalah penyimak utama di berbagai akun pesantren. Sedangkan kluster ketiga sekadar bonus saja.

Pertanyaannya, apakah sedikit banyaknya penyimak kluster terakhir menjadi penentu berhasil atau tidaknya ngaji pasaran online? Tentu tidak toh. Saya beberapa kali mewanti-wanti; awas loh ya, ingat! ngaji pasaran online bukan ngaji online. Berdasarkan definisi dan ciri-ciri khasnya, pengajian kitab ini didesain bukan untuk open audiens. Tepatnya semi terbuka. Terbuka yang dibatasi. Terbuka karena akunnya bebas diakses siapapun. Terbatas, pada mereka yang terbiasa dengan ngaji kitab kuning atau bisa memahaminya. Sehingga, berhasil atau tidaknya tergantung pada seberapa banyak santri aktif yang menyimak, karena memang latar belakang dan tujuan ngaji pasaran online adalah memfasilitasi santri agar bisa tetap ngaji pasaran Ramadan. Semacam pembelajaran daring bagi sekolah formal.

Loh, kenapa dibatasi hanya untuk santri, sebagai metode dakwah bukankah seharusnya pengajian ini bisa diterima oleh siapapun? Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Bro, bro maksa banget. Sudah saya bilang, kalau itu yang diinginkan, maka bukan ngaji pasaran online namanya,tapi ngaji online ataukajian Ramadan biasa. Jadi, otokritik tentang maraknya pengajian kitab kuning pasaran Ramadan yang hanya disimak ratusan dan beberapa ribu orang saja, tidak seperti kajian Ramadan biasa oleh ustad-ustad kondang, ya salah alamat bro. Itu sangat emosional, personal, atau tendensional (boleh gak ya mlesetin kata tendensius). Seharusnya, membandingkannya dengan pengajian online yang diasuh oleh kondangers lainnya.

Keberhasilan Tradisionalis Memodernisir

Beruntung ada Corona. Sebagaimana tuntunan Islam, selalu ada hikmah dibalik musibah, bencana, atau wabah. Berkah Corona, kiai di pesantren-pesantren tradisionalis kompak memanfaatkan produk kemajuan teknologi kaum modernis sebagai solusi pembelajaran kitab kuning atau ngaji pasaran online. Santri tetap bisa menyempurnakan (khatam) kitab-kitab sesuai kajian keilmuan yang dibutuhkan.

Setelah Ramadan usai, saya optimis, pesantren-pesantren tersebut makin akrab dengan transfer ilmu atau informasi via akun Facebook dan Youtube. Tinggal bagaimana memaksimalkan penggunaannya agar bisa dikatakan berhasil di jalur digital. Sabar, butuh proses. Wong yang bertahun-tahun mengakrabi dunia digital saja, sampai saat banyak yang kondisinya statis.

Ngomong-ngomong soal keberhasilan. Menurut saya semarak ngaji pasaran online Ramadan tahun ini tergolong berhasil. Dalam hal kuantitas penyelenggara ngaji pasaran online, kualitas teknis, maupun jumlah penyimak.

Saya konsisten memilih istilah penyimak (menyimak). Dalam aplikasi media sosial, yang dimaskud penyimak adalah “tayangan” yang menunjukkan jumlah akun yang menayangkan. Ini untuk membedakan dengan viewers, likers, subscribers, atau anggota grup.     

Saat live streaming berlangsung memang hanya beberapa saja yang menyimak. Terendah belasan akun, terbanyak di kisaran 200 hingga 300-an. Tapi, please, jangan menutupi kelebihan dari media sosial atau online. Ia, dapat disimak atau diputar ulang kapan pun, selama tak dihapus dari laman Facebook atau Youtube. Coba cek, jeda beberapa jam saja sudah bertambah ratusan hingga ribuan penyimak (tayangan). Berganti hari makin banyak. Seminggu saja bisa dilihat akumulasinya. Jumlah ngaji pasaran online dikali jumlah tayangan. Belum lagi satu pesantren bisa mengulas hingga 5 kitab.

Kekurangan, pasti ada, tapi bukan berarti menyembunyikan keberhasilannya. Bangga terhadap hasil dari sebuah proses mandiri, menurut saya adalah kebaikan. Berapapun hasilnya. Karena itu adalah tanda paling nyata dari rasa syukur. Tentu dengan terus mengevaluasi diri tanpa henti untuk hasil yang lebih maksimal. Wallahu a’lam bisshawab. (Kalil Sadewo)

Related Articles