Home Headline Pakar UGM Ingatkan Soal Resistensi Antimikroba, Nyawa Jutaan Orang Terancam

Pakar UGM Ingatkan Soal Resistensi Antimikroba, Nyawa Jutaan Orang Terancam

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

CirebonPlus (C+) – Kerusakan yang disertai dengan perubahan iklim serta lingkungan berkontribusi besar terhadap munculnya penyakit menular dan tidak menular. Sebagian besar wabah penyakit dewasa ini ditimbulkan dari gangguan manajemen kesehatan masyarakat, termasuk sanitasi dan kebersihan, imunisasi, serta pengendalian penyakit yang ditularkan melalui vektor dan zoonosis.

Pendapat tersebut disampaikan dr Gunadi PhD SpBA dalam kegiatan bertajuk 2021 Winter Course on Interprofessional Education – One Health: Diseases of Tomorrow yang ia koordinatori. Kegiatan itu diprakarsai Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi UGM serta One Health Coordinator Center (OHCC).

Gunadi mengatakan, isu utama yang dibahas dalam winter course kali ini adalah konsep one health sebagai interkoneksi lintas sektoral kesehatan dalam mengatasi ancaman pandemi di masa mendatang.

“Zoonosis merupakan penyakit yang secara alamiah ditularkan dari hewan ke manusia maupun sebaliknya. Zoonosis menduduki 60 persen dari total penyakit infeksius yang telah teridentifikasi dan 75 persen dari penyakit infeksius baru yang telah dilaporkan,” ungkap dia.

Dikatakan, penyakit seperti Hendra, Nipah, flu burung, Severe Acquired Respiratory Syndrome (SARS), dan yang saat ini masih menjangkit secara global yaitu Corona Virus Desease 2019 (Covid-19), merupakan penyakit zoonosis telah yang menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar pada 20 tahun terakhir. Meski bermunculan penyakit zoonosis baru, namun menurutnya penggunaan produk antimikroba di bidang kesehatan manusia dan hewan harus lebih selektif dan efisien.

Sebab, keberadaan antimikroba menjadi sangat meluas, bahkan residunya dapat ditemukan di zat buangan rumah sakit dan peternakan yang kemudian dapat mencemari lingkungan. “Interaksi antara mikroba dengan antimikroba dalam konsentrasi yang rendah dapat memicu timbulnya resistensi antimikroba,” ujarnya.

Apabila suatu penyakit menjadi resisten terhadap suatu kelompok antimikroba, sambungnya, maka pengobatan standar menjadi tidak efektif, bahkan menjadi tidak dapat diobati. Hal ini menurutnya dapat meningkatkan derajat keparahan suatu penyakit, bahkan berujung pada kematian.

“Jika hal ini terus berlangsung, diperkirakan pada tahun 2050 akan terjadi peningkatan kematian hingga 10 juta jiwa akibat infeksi patogen resisten antimikroba. Melalui konsep one health, (calon) tenaga kesehatan, ahli terkait dan masyarakat diajak untuk bisa memahami, mengantisipasi, dan menyiapkan tata laksana pandemi,” pungkasnya.

Sementara itu Dekan FKKMK, Prof Ova Emilia sebagaimana dilansir website resmi UGM mengatakan, kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan kerjasama antar calon profesional kesehatan dalam kolaborasi multikultural serta meningkatkan paparan kontekstual nasional dan internasional serta kompetensi yang dibutuhkan oleh calon profesional kesehatan dari para narasumber one health dari universitas mitra dalam dan luar negeri.

Ia menyebutkan beberapa lembaga dan universitas mitra yang terlibat diantaranya Indonesia One Health University Network (Indohun), Thailand One Health University Network (Thohun), Southeast Asia One Health University (Seaohun), University Sains Malaysia, University of Sydney, dan Central Mindanao University Filipina. (C+/06)

Ilustrasi: ugm.ac.id

Related Articles