kuping kiri

Pengulangan Sejarah Kongres IPNU di Cirebon dan Tantangan Milenial yang Lebih Kompleks

Pengulangan Sejarah Kongres IPNU di Cirebon dan Tantangan Milenial yang Lebih Kompleks

Cirebonplus.com (Ci+) – Sejarah terulang. Setelah pernah digelar 60 tahun lalu, tahun ini Kabupaten Cirebon kembali dipercaya menjadi “shohibul bait” penyelenggaraan Kongres Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Tiga belas tahun pasca kemerdekaan Indonesia (1958), IPNU menyelenggarakan kongres yang ketiga di Cirebon. Tahun ini merupakan penyelenggaraan kongres yang ke-19 (XIX) dengan agenda utama pemilihan ketua umum pimpinan pusat dan pembahasan program kerja utama untuk periode berikutnya.

Berdasarkan hasil rapat PP IPNU, Kongres IPNU akan digelar di Pondok Pesantren Kempek, Gempol, Kabupaten Cirebon selama empat hari yakni 21-24 Desember 2018. Sejumlah persiapan mulai dilakukan panitia PP IPNU yang juga melibatkan panitia lokal, baik dari PW IPNU Jawa Barat maupun PC IPNU Kabupaten Cirebon.

Menjadi tuan rumah adalah kebanggan tersendiri bagi para kader IPNU, terutama dari Jawa Barat dan Kabupaten Cirebon. Meski harus berjibaku untuk mempersiapkan acara berskala nasional dan melayani para pimpinan cabang dari kota/kabupaten se-Indonesia, namun hal itu sebanding dengan rasa bangga menjadi bagian dari sejarah perjalanan IPNU tingkat nasional.

Kebanggaan tersebut salahsatunya disampaikan kader terbaik IPNU Kabupaten Cirebon yang saat ini menjadi wakil ketua PW IPNU Provinsi Jawa Barat, Hasan Malawi. Menurutnya, helatan nasional tiga tahunan yang ke-19 ini memiliki kesan tersendiri bagi masyarakat Cirebon. Utamanya warga Nahdlatul Ulama (NU) dan paling utama keluarga besar IPNU Kabupaten Cirebon.

“Bagi kami, terutama masyarakat NU Cirebon ini adalah kebanggaan. Sebagai organisasi pengkaderan di tubuh Nahdlatul Ulama setelah 60 tahun lalu melaksanakan perhelatan terbesar nasional yang saat itu bernama Muktamar III dan akhir tahun ini Kongres XIX kembali ke Cirebon, tentu punya kesan tersendiri. Hal bersejarah ini menegaskan bahwa NU Cirebon punya andil besar bagi kiprah Nahdlatul Ulama,” papar putra dari salahsatu sesepuh Pondok Pesantren (Pontren) Babakan Ciwaringin, Cirebon itu saat berbincang saantai dengan Cirebonplus.com, Selasa (27/11).

Hasan menceritakan, penetapan tempat kongres di Cirebon menjadi sesuatu yang cukup mengejutkan. Pasalnya, selama ini kabar yang cukup kencang justru menyebutkan bahwa kongres akan dilaksanakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Baginya, hal itu menjadi langkah progresif bagi IPNU/IPPNU secara kelembagaan. Sebab, kongres tidak sebatas momentum tiga tahunan, tapi harus mampu melahirkan langkah-langkah maju untuk organisasi.

“Semisal potitioning NU dalam konteks nasional di tengah keterbukaan informasi saat ini. Tekanan pasar bebas dan lipatan globalisasi, mendorong IPNU untuk bisa  menyelesaikan persoalan-persoalan yang berada di lingkup ekternal organisasinya,” ujarnya.

Selain itu, Hasan melanjutkan, kongres harus menjadi momentum bagi IPNU untuk merapihkan sistem internal organisasi dan melakukan percepatan kaderisasi dengan. Tentu, bila melihat tantangan yang ada, skema dan pola yang harus dilakukan berbeda, sesuai kebutuhan setiap pimpinan di tingkatan masing-masing.

Yang tak kalah menarik, sambungnya, tantangan IPNU dalam kerangka perjalanan demokrasi bangsa. Terbaru adalah momentum politik elektoral Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang hentakannya paling terasa bagi organisasi, baik pemilihan presiden (pilpres) maupun pemilihan  leegislatif (pileg).

“Semua orang mencoba membangun keterlibatan langsung. Tapi bagi IPNU, momentum ini hanya perjumpaan situasi saja. IPNU harus tetap fokus menyusun platform baru bagi generasi milenial. Prespektif kita mesti bergeser dari politik sektoral, transaksional, dengan cara meningkatkan partisipasi demokrasi, kedaulatan rakyat dengan keberpihakan yang jelas,” tegas dia.

Dikatakan, segmen IPNU adalah pemilih pemula, maka bagaimana organisasi ini mampu membangun kesadaran demokrasi melalui politik sebagai alat perjuangan.

Mantan Ketua PC IPNU Kabupaten Cirebon, Casiwan Abdulloh juga menyatakan rasa bangganya terhadap helatan Kongres IPNU yang akan diselenggarakan di Pontren Kempek pada 21-24 Desember 2018. Hal ini mengulang sejarah 60 tahun yang lalu, tepatnya 27-31 Desember 1958 dalam pelaksanaan Muktamar III IPNU yang dihelat di Cirebon, tepatnya di area yang sekarang dibangun Pasar Balong.

Sejauh yang ia ingat dari naskah dan cerita para senior, muktamar tersebut menghasilkan gagasan besar dibentuknya Departemen Perguruan Tinggi yang kemudian menjadi embrio lahirnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

“Salahsatu saksi hidup yang saat itu mengikuti Muktamar III IPNU adalah KH Ibrohim Rozi yang tinggal di Panembahan, Plered, Cirebon,” ujarnya.

Dikatakan, dengan adanya kongres IPNU yang dilaksanakan di Cirebon, ia berharap akan lahir kembali menghasilkan gagasan-gagasan besar untuk organisasinya, bagi NU dan NKRI. (Abdul Bari)

Related posts