Home NgopiToday PKB (Harusnya) Menang Pilkada

PKB (Harusnya) Menang Pilkada

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

Oleh: Kalil Sadewo

PEMILIHAN Bupati (Pilbup) Cirebon tiga tahun lagi. Baru digelar tahun 2024. (Belanda) Masih jauh? Tidak juga. Tergantung siapa subjeknya. Di dunia politik. Bagi para politisi. Utamanya yang berkepentingan, tiga tahun itu sebentar.

Untuk menang Pilkada, bukankah partai politik harus punya peta jalan. Memetakan naikan, turunan, belokan, terjalan, dan lainnya. Sehingga bisa direncanakan kapan harus jalan lambat, jalan cepat, jalan melompat, lari maraton, hingga lari cepat. Harus biasa menentukan level stressing secara periodik.

Pun demikian, nama-nama yang berhasrat maju Pilbup Cirebon. Kalau mau serius, tentu harus mulai start jauh-jauh hari, dari sekarang. Menabung popularitas dan elektabilitas. Meski, isi tas tak terbatas, tentu tak bisa tergesa-gesa ngegas di akhir batas.

Di Kabupaten Cirebon, di antara banyak tema politik, pembahasan tentang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadi yang paling menarik. Terutama menghadapi Pilkada 2024. Karena, pertama, partai ini setiap hajat Pilbup menjadi pemain utama, tapi selalu kalah oleh calon dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sehingga, di Pilbup 2024 nanti PKB makin penasaran. Masa iya calonnya kalah terus.

Kedua, pada Pemilu 2019 lalu, partai yang didirikan para kiai ini menjadi pemenang. Untuk pertama kalinya berhasil menggeser dominasi PDIP. Okelah, di Pilkada sebelumnya selalu kalah lawan PDIP karena bukan pemenang Pemilu. Maka, sebagai pemenang Pemilu, di Pilkada mendatang kalau calon PKB sampai kalah, maka kebangetan.

Ketiga, PKB banjir tokoh yang bisa ditarungkan pada Pilkada 2024 nanti. Ketokohan mereka tak diragukan lagi popularitasnya. Banyak yang punya kapasitas dan kapabilitas. Tinggal isi tasnya saja, perlu dicek, hehehe.

Keempat, DPP PKB sudah lebih terbuka dan realistis. Soal ini, saya termasuk yang agak kecewa dengan pencalonan PKB di Pilkada sebelumnya, terutama di Kabupaten Cirebon dan daerah jiran. Saya tidak melihat proses rekrutmen calon berdasarkan pemetaan kekuatan lawan. Sepertinya, pencalonan tidak untuk menang. Atau mungkin ada pertimbangan lain, entah!

Kini, saya melihat secara nasional PKB lebih realistis. Sinyalnya saya dapat dari restruktursasi kekuatan PKB, terutama DPAC dan DPC yang mengakomodir banyak “pasukan” muda, milenial. Meski kemampuannya perlu diuji.

Kelima, PKB punya mitra (sedarah) strategis dan berharga yang tidak dimiliki partai lain. Bahkan, lebih dari mitra, karena telah “melahirkannya”. Ia adalah Nahdlatul Ulama (NU). Tinggal seperti apa relasi yang dibangun PKB dengan NU agar bias terus dikapitalisasi menjadi kekuatan dan kemenangan di Pilkada 2024.

Banjir Tokoh Layak Nyalon

Kelima poin tersebut masing-masing menarik untuk dibahas. Namun kali ini saya sedang berhasrat membahas poin yang ketiga. PKB banjir tokoh untuk Pilkada 2024. PKB yang saya maksud di sini adalah kader struktural, tokoh-tokoh struktural NU, serta kultural NU mulai dari basis pesantren, pengusaha, hingga profesional.

Mungkin ada yang protes struktural dan kultural NU kok ditarik-tarik ke area politik PKB. Saya paham, itu teori organisasinya. Tapi secara praktis, karena kedekatan hubungan “bilogis” dan psikologis, selama tujuannya sama untuk membangun daerah serta kepentingan umat, sudah terjadi di banyak daerah PKB dan NU bergabung berjuang bersama di Pilkada.

Sekarang kita masuk ke pilihan nama yang bisa didorong untuk maju Pilkada. Dari PKB, sebagai ketua DPC, HR Hasan Bashori masuk level pertama. Dengan potensi dan pengalaman yang dimiliki, nama berikutnya adalah H Darusa dan HM Luthfi. Dari kalangan perempuan, dua nama yang dianggap paling layak adalah Hj Yuningsih dan Hj Ismiyatul Fatihiyah. Perspektif saya, kelima nama itu paling layak dan berpeluang diusung PKB.

Kelompok kedua dari struktural NU. KH Wawan Arwani Amin dan KH Aziz Hakim Syaerozi, sebagai pemimpin tertinggi PCNU Kabupaten Cirebon keduanya berpeluang besar untuk diusung.

Nama lain yang tak kala potensial adalah HM Nuruzzaman. Tokoh yang berkarir di GP Ansor dari PC hingga PP. Meski pernah masuk Gerindra, tapi Staf Khusus Kementerian Agama (Kemenag) RI itu pernah menjadi pengurus DPC PKB Kabupaten Cirebon era H Takbir. Apalagi saat ini punya posisi di kementerian yang dipimpin orang PKB.

Selain nama-nama itu, ada yang mengusulkan dua tokoh struktural PBNU, yakni H Muhammad Said Aqil dan H Sa’dun Affandi. Tetapi dua nama itu dianggap lebih tepat sebagai alternatif bila tokoh struktural lokal tidak berminat.

Di kalangan nonstruktural NU, nama-nama seperti H Ade Dahwani (pegusaha), H Zainuri Anwar (profesional), H Asdullah Anwar (birokrat), KH Lukman Hakim (pesantren) juga layak dicalonkan dalam Pilbup Cirebon mendatang.

Yang paling penting, bila pada Pemilu 2024 PKB kembali menang dengan minimal 10 kursi (20%), mala PKB bisa mencalonkan sendiri, tanpa harus berkoalisi. Itu artinya, untuk mengakumulasi kekuatan agar benar-benar bersatu di Pilkada nanti, maka pasangan calon bupati dan wakil bupati yang diusung sebaiknya kombinasi antara tokoh PKB dan tokoh NU. Namun, yang perlu dicatat, tetap harus mencari dukungan partai lain untuk mengusung pasangan tersebut, agar makin kuat. (*)

Penulis adalah Peminat Isu Politik

Related Articles