Home NgopiToday Psikolog Unpad Teliti Kemampuan Akademik Siswa Saat Pandemi, Ini Hasilnya

Psikolog Unpad Teliti Kemampuan Akademik Siswa Saat Pandemi, Ini Hasilnya

by Redaktur Cirebon Plus
0 comment

CirebonPlus (C+) – Pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) berdampak besar terhadap dunia pendidikan. Study from home atau belajar dari rumah baik menggunakan sistem daring atau pemberian tugas-tugas rumah ternyata output-nya berbeda dengan pembelajaran tatap muka.

Kondisi ini ternyata berdampak pada kemampuan akademik siswa. Butuh strategi tertentu bagi para siswa untuk melakukan penyesuaian dalam menghadapi sistem pembelajaran daring.

Kondisi ini menjadi bahan penelitian oleh sejumlah dosen di Departemen Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad). Tim tersebut beranggotakan Rasni Adha Yuanita MSi (psikolog), Erna Susiati MSi (psikolog), Puspita Adhi Kusma MPsi (psikolog), Fitriani Yustikasari Lubis MSi (psikolog), dan Miryam Wedaswari MPsi (psikolog).

Rasni menjelaskan, ada banyak keluhan yang muncul dari para siswa maupun orangtua selama proses pembelajaran daring dilakukan. Keluhan tersebut disampaikan para orangtua, siswa, maupun guru melalui layanan konseling dengan tim Psikologi Unpad. Berbagai masalah ini kemudian mendorong para dosen untuk melakukan penelitian secara empiris.

“Ketidakoptimalan dalam proses belajar bisa dibayangkan hasilnya juga tentu tidak optimal. Karena itu, kita coba melakukan penelitian,” kata Rasni saat menyampaikan hasil penelitian dalam gelar wicara daring Kiat-kiat Meningkatkan Kemampuan Akademik Siswa Selama Pembelajaran Online,  Minggu (5/7).

Erna mengungkapkan, sebanyak 1.403 responden dari 21 provinsi di Indonesia menjadi objek penelitian ini. Penelitian menggunakan kuesioner daring yang disebar secara acak melalui jejaring media sosial selama tanggal 6-12 Mei 2020.

“Kalau dilihat sebaran dari jenjang pendidikannya, responden dari jenjang SMP sebanyak 753 orang. Kalau SMA sebanyak 351 responden, dan untuk perguruan tinggi sebanyak 299 reponden,” kata Erna.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan profil kemampuan penyesuaian akademik dari responden kelompok SMP dengan responden kelompok SMA dan mahasiswa. Puspita memaparkan, penyesuaian akademik yang dimaksud adalah kemampuan pelajar dalam menyesuaikan dan menghandel terhadap beragam permasalahan untuk beradaptasi dengan kondisi akademik.

Analisis profil tersebut menggunakan tiga domain penyesuaian akademik, yaitu gaya hidup akademik, prestasi akademik, dan motivasi akademik. Domain gaya hidup adalah bagaimana pelajar bisa menyesuaikan diri dengan perannya sebagai pelajar. Domain ini akan menganalisis kemampuan siswa dalam beradaptasi dengan pola pembelajaran daring.

Domain prestasi akademik menyasar pada proses adaptasi pelajar sehingga bisa mencapai performa maksimal akademiknya. Sementara domain motivasi akademik menyasar pada adaptasi pelajar untuk melanjutkan dan menyelesaikan semua aktivitas akademik.

Terkait perbedaan profil tersebut, Puspita menjelaskan hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Berdasarkan data responden, panduan tugas yang jelas menjadi satu-satunya faktor pengaruh penyesuaian akademik bagi kelompok SMA dan mahasiswa.

“Menurut mereka (kelompok SMA dan mahasiswa), selama instruksi itu jelas, mereka tahu apa yang harus dikerjakan, bisa menunjang kemampuan akademiknya,” ujar Puspita.

Kelompok SMP memiliki faktor penyesuaian yang banyak. Secara umum, selain panduan tugas yang jelas, faktor selanjutnya yaitu ketersediaan sarana prasarana, serta beban tugas yang moderat. Hal ini disebabkan kelompok SMP masih bersifat transisi antara peralihan dari pembelajaran dasar ke tingkat menengah.

Sementara itu Fitriani menjelaskan, ada sejumlah tips yang bisa dilakukan untuk meningkatkan prestasi selama pembelajaran daring. Diakui, ada perbedaan metode antara pembelajaran tatap muka dan daring.

Kejelasan panduan mengerjakan tugas, pengelolaan beban tugas, ketersediaan sarana dan prasarana, serta peran orang tua merupakan penentu untuk meningkatkan prestasi akademik siswa.

Pengajar harus menyampaikan panduan tugas yang detail dan jelas, sehingga tidak ada lagi pertanyaan yang muncul dari pelajar. Idealnya, pemberian tugas dilakukan melalui diskusi tatap muka daring secara khusus. Selain itu, tugas harus dilakukan pembahasan oleh guru.

“Jangan berpikir bahwa kayaknya anak-anak sudah tahu, karena kenyataannya banyak komentar dari siswa bahwa banyak yang tidak mengerti tugasnya,” sambung Fitriani.

Penentu yang lebih penting adalah peran orangtua. Khusus kelompok SMP, orangtua harus berperan mendampingi siswa, bukan sekadar mengajarkan. Orangtua juga harus memastikan siswa SMP paham. Jika tidak paham, orangtua bisa mencari upaya untuk membantunya paham.

Di akhir penjelasannya, Miryam mengatakan, untuk mengoptimalkan motivasi intrinsik siswa, ada sejumlah tips yang bisa dilakukan. Ciptakan kolaborasi antar siswa untuk menetapkan tujuan bersama, menyediakan waktu bagi siswa untuk mengobrol dengan temannya, berikan umpan balik terhadap tugas yang dikerjakan, serta tawarkan tantangan tugas yang tingkat kesulitasnnya memadai tetapi bisa ditaklukkan oleh siswa. (Dewo)

Foto: Istimewa

Related Articles