kuping kiri

Santri Pontren Gedongan Dilatih Pemahaman Antiradikalisme lewat Boardgame

Santri Pontren Gedongan Dilatih Pemahaman Antiradikalisme lewat Boardgame

Cirebonplus.com (C+) – Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2018, salahsatu sekolah binaan Lembaga Pendidikan (LP) Maarif Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Cirebon, SMP Muallimin-Muallimat MH-II Pondok Pesantren (Pontren) Gedongan menggelar pelatihan sehari tentang menangkal radikalisme berbasis agama, Senin (1/10).

Kegiatan diikuti seluruh civitas pesantren di lingkungan pontren tertua di wilayah timur Cirebon (WTC) tersebut, mulai pengasuh, para guru, hingga santri setempat. Untuk mengisi pelatihan, tiga fasilitator dihadirkan di antaranya Dr Miftahul Huda MPd dari program Boardgame for Peace UNDP.

Pelatihan menggunakan pendekatan game dalam memperkenalkan bahaya radikalisme. Media game dianggap efektif dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian, karena generasi milenial sangat akrab dengan permainan.

Muhammad Najib, mewakili civitas pendidikan di bawah Yayasan Fathul Amin menyampaikan manfaat dari pelatihan itu. Menurutnya, pelajar menjadi mengetahui pengertian radikalisme dengan bahasa yang mudah mereka pahami, yakni lewat permainan. Terlebih game yang digunakan bersifat interaktif dan bisa membangkitkan kesadaran bersama.

Kenapa menggunakan boardgame? Miftahul Huda, fasilitator yang juga pengurus LPBI NU pusat mengatakan, untuk belajar bersama anak-anak muda zaman now atau milenial dibutuhkan inovasi dan kreasi baru dalam menyampaikan pesan perdamaian. Anak-anak milenial tidak suka diceramahi atau digurui, tapi difasilitasi untuk mengalami bagaimana rasanya berinteraksi dengan orang yang berbeda pandangan, sikap, bahkan karakter.

Dalam boardgame for peace yang menggunakan permainan kartu, kata dia, dirancang oleh ahli boardgame dengan pesan perdamaian dari Yayasan Peace Generation. Hal ini memungkinkan para pemain untuk berinteraksi dan berdiskusi dalam menyelesaikan satu misi dengan pilihan berkompetisi.

Jika memilih mementingkan diri sendiri, maka akan hancur. Sebaliknya, bila memilih bekerjasama dan saling membantu untuk kepentingan bersama, akan mencapai kebaikan bersama.

Boardgame ini dirancang khusus untuk membentengi anak-anak muda Indonesia dari paham kekerasan dan ekstrimisme,” ujar dia.

Syahroni, salahsatu peserta pelatihan mengaku sangat senang dengan metode ini. Bersama santri lain, ia belajar hal-hal baru terkait radikalisme. (*)

Laporan: Abu Mutamakkin

Related posts